Di Balik Diam Ibu, Ada Doa yang Tak Pernah Pergi


Dalam diamnya, ada doa.
Dalam lelahnya, ada harap.
Dan dalam sabarnya, ada keyakinan kepada Tuhan bahwa anaknya akan baik-baik saja, meski jalannya berliku.
Ibu tidak selalu hadir dengan suara.
Sering kali ia hanya ada di sudut rumah, di dapur yang sunyi,atau di sajadah yang mulai menua oleh waktu dan air mata.
Kita tumbuh tanpa benar-benar menyadari
bahwa setiap langkah kita diiringi doa yang tak pernah diumumkan.
Ia tahu dunia tidak ramah.
Ia tahu kita akan jatuh, kecewa, salah memilih jalan.
Namun ia memilih percaya.
Bukan pada kekuatan kita,
melainkan pada kasih Tuhan yang ia titipkan lewat doa-doanya.
Ada malam-malam ketika ibu terbangun bukan karena mimpi,
melainkan karena cemas.
Ia menyebut nama kita pelan,takut mengganggu tidur dunia,
namun berharap langit mendengar.
Kita sering mengira cinta itu harus diucapkan.
Padahal cinta ibu jarang berbentuk kata.
Ia hadir sebagai kesabaran,
sebagai menunggu, sebagai keyakinan yang tak goyah meski keadaan tak selalu berpihak.
Jika hari ini kita masih berdiri,
masih bernapas, masih punya harapan mungkin itu karena ada doa ibu
yang diam-diam menjaga dari kejauhan.
Selamat Hari Ibu.
Untuk setiap doa yang tak terdengar,
setiap lelah yang disimpan,
dan setiap cinta yang tak pernah meminta balasan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ucapan adalah Do'a