Ucapan adalah Do'a
Sering kali kita berbicara tanpa berpikir panjang.
Mengeluh karena lelah.
Menggerutu karena hidup terasa berat.
Mengucap kata-kata yang keluar begitu saja, seolah tak meninggalkan jejak.
Padahal setiap ucapan adalah doa.
Ia mungkin tidak terdengar sakral,
tidak dibungkus bahasa langit,
tetapi ia tetap mengetuk arah hidup.
Kalimat sederhana seperti,
“Semoga lancar,”
“InsyaAllah bisa,”
atau bahkan,
“Pelan-pelan saja, aku kuat,”
sering kali menjadi pegangan di hari yang rapuh.
Ibu sering mengingatkan tanpa kita sadari.
Ayah menasihati lewat kalimat singkat.
Orang-orang yang mencintai kita memilih kata dengan hati-hati,
karena mereka tahu:
ucapan bukan sekadar suara - ia harapan.
Aku pernah mengalaminya sendiri.
Suatu hari aku berucap, ringan saja, tanpa rencana matang,
tanpa keyakinan penuh, bahkan sambil lalu:
“Semoga tahun 2025 ke Bromo.”
Hanya itu.
Tidak ada doa panjang.
Tidak ada usaha yang terlihat.
Saat itu keadaanku biasa saja—bahkan terasa sibuk, sempit, dan mustahil.
Waktu berjalan seperti biasa.
Hari-hari datang dan pergi.
Ucapan itu hampir terlupakan.
Sampai suatu hari, jalan itu terbuka dari arah yang tidak pernah kupikirkan.
Ajakan yang tak direncanakan.
Kesempatan yang datang tiba-tiba.
Rezeki yang mengalir pelan, tapi cukup.
Dan aku benar-benar berdiri di sana.
Di Bromo.
Dengan angin dingin yang nyata,
dan hati yang mendadak terdiam.
Saat itu aku ingat:
aku pernah mengucapkannya.
Ucapan sederhana.
Yang dulu terasa sepele.
Yang terlihat mustahil.
Sejak hari itu aku percaya,
ucapan tidak pernah benar-benar hilang.
Ia menunggu.
Ia bekerja diam-diam.
Dipenuhi dengan cara yang tidak selalu kita pahami.
Komentar
Posting Komentar